Laman

Rabu, 23 Maret 2011

Belajar dari Kodok

Kodok adalah sebuah manifestasi sifat rendah hati. Kodok adalah hewan yang melompat dengan jumawa dan apa adanya. Setiap orang yang bertemu dengannya akan minggir. Entah ada kekuatan apa yang membuatnya disegani. Berbeda dengan ular. Jika seekor ular berlalu di depan segerombolan orang, setidak bersalah apapun ular itu, setidak berbisa apapun ular itu, gerombolan itu pasti bersiap-siap untuk mebunuhnya.

Kodok mewarisi sikap rendah hati dan berwibawa yang tidak dimikliki ular. Tubuh kodok seperti tubuh semar. Dan tidak heranlah jika ia pun mewarisi sikap bijak semar.

Ia adalah hewan bebas. Bukan peliharaan. Walaupun ada orang yang memelihara kodok —entah sebagai hoby ataupun ternak, tetap saja ia akan menjadi kodok. Yang melompat. Bukan berjalan dan menjilat seperti anjing.

Sifat kodok yang rendah hati dan bersahaja seharusnya ada di rumah-rumah hati kita. Supaya kita bisa lebih menghargai kehidupan. Menjalaninya bukan dengan keponggahan. Tapi dengan sikap tawaduk. Sang kodok juga mengajak kita melihat kembali kemapanan yang berada di rumah-rumah pikiran dan hati kita. Ia mengusik dan mempertanyakan kembali arti kehidupan dalam rumah-rumah yang hangat itu.

Namun kebanyakan yang terjadi adalah kita menjadi terlalu egois. Kodok dianggap terlalu seenaknya merusak tatanan yang telah begitu lama kita agung-agungkan. Yang telah lama kita mapan-mapankan. Dan tentu kebanyakan kita tidak senang dengan itu. Akhirnya kita memutuskan untuk membunuhnya. Membunuhnya berarti melindungi kemapanan dalam kehidupan. Kemapanan yang biasanya menimbulkan tanda tanya besar. Dan kita menjadi begitu bernafsu untuk membunuhnya.

Namun kebenaran akan selalu ada —entah kebenaran seperti apa yang saya maksud. Mungkin kebenaran yang tetap relatif. Dan memang jelas sekali kebenaran tidak dapat dibungkam. Membungkam kebenaran adalah tindakan yang paling bodoh yang pernah dilakukan manusia. Kalaupun ia ditangkap dan dibungkam ia akan merucut dan memasuki rongga-rongga pikiran orang lain. Ia tidak dapat dibunuh, begitupun kodok. Ia tidak sendirian. Begitu banyak kebenaran yang terang benderang. Yang kita coba-tutup-tutupi karena keegoisan.

Dan sekali lagi kodok mengajarkan kita untuk bersikap jujur. Jujur dan bersahaja menjalani hidup. Bukan berlebih-lebihan.

Tapi tetap saja kita masih mengaggap, kejadian itu terlalu/ /berlebihan/