Laman

Senin, 23 Februari 2009

Sebuah Percakapan Dengan Masa Depan


Suatu sore, seorang anak yang telah lelah berlari berkilo-kilo meter, sampai pada sebuah tebing di pinggir pantai sebelah barat kota itu. Sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal, ia menatap lanskap jingga yang berseteru dengan biru samudra.
“Apakah benar aku sudah sampai?” ia berbisik ragu dalam hati.

Kedua tangannya bertopang pada kedua lututnya. Keringat terus bercucucuran dari sekujur tubuh. Pakaiannya basah oleh peluh, sementara bau matahari tercium dari rambutnya.

Lelah mengepung sekujur jasadnya.

Ia mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya.

“Hebat! Hebat! Sebuah keputusan besar!” tiba-tiba angin berhembus meniupkan suara seorang laki-laki tua. Seperti suara seorang kakek yang telah puas mengecap pengalaman hidup.

“Siapa itu?” Si Anak bingung dan melihat sekeliling.

Tak ada seorang pun.

“Selamat datang, Nak! Kapal layarmu telah sampai di gerbang samudra!” lanjut suara itu.

Sang anak terus berputar-putar mencari-cari arah suara itu berasal.

Nihil.

Suaranya begitu halus hampir tak terdengar namun begitu jernih hingga tak mungkin disangkal.

“Siapa kau!” teriak anak itu lagi.

“Tapi ini hanya gerbang, Hai Bocah!” terdengar suara halus itu lagi.

Debur ombak menghentak-hentak dasar tebing melempar percikan air laut.

“Siapa kau?!” Anak itu berteriak makin frustasi. Ia tahu tidak akan mendapat jawaban apa-apa.

Awan berarak dihembus angin barat yang hangat.

“Lagi pula kapal kecilmu terbuat dari kertas,” suara halus itu melanjutkan. Si Anak mendengarkan pasrah, “sungai yang membawamu ke laut apa tidak membuatmu sadar betapa lemahnya kapalmu?”

Debur ombak membentur dinding karang membuat percikannya sampai pada lidah Si Anak. Asin.

“Lalu kenapa?” anak itu menjawab sekenanya. Ia mengantungkan pandangannya ke arah samudra luas. Sepertinya suara itu berasal dari sana. Mungkinkah suara Sang Samudra?

“Apakah kau tahu sebesar apa gelombang yang akan kau hadapi di tengah samudra nanti, Hai Anak Sok Berani?! Tahukah kamu gelombang-gelombang yang bergulung-gulung itu akan membuat kapalmu tenggelam ke dasar laut yang dalam.” suara itu bergetar menciutkan nyali Si Anak.

Si Anak sedikit ketakutan dan menggigil. Angin barat yang hangat berhembus menembus sela-sela pakaiannya yang masih penuh peluh. Ia menatap Samudra lepas.

“Aku kapal kecil yang terkucil tidak akan gentar dengan sesumbar dan komentar.” ucapnya dengan suara serak menggema, “Aku terkomposisi dari orang-orang sakti. Akan berevolusi meraih sugesti.”

Hening.

Samudra tak bersuara.

Si Anak melanjutkan.

“Membuatku optimis walau hidup di tengah orang-orang konservatif.”

Angin sendu dari arah timur membawa suara Si Anak yang serak itu ke tengah laut lepas. Menggemakan keserakan yang absurd.

Samudra menelan surya yang makin merah.

Bumi menggelap.

Mencari Jalan Pulang

Masih ingatkah pada malam itu, ketika kamu memegang tanganku begitu erat di Terminal Lebak Bulus. Ketika kita kehabisan bis pulang. Diam-diam aku senang melihat kekalutanmu. Membuatku diperlukan.

Aku senang menyesatkan diriku sendiri. Aku senang berada dalam keadaan mencari jalan pulang. Itu hobiku jika ada waktu luang. Tersesat di jalan-jalan kota. Menyadari realitas di sekeliling. Bertemu dan berkenalan dengan tukang bubur, tukang koran, sopir angkot, orang-orang baru. Sekedar berputar-putar tanpa tujuan dengan motorku. Bensih habis. Uang habis. Pulsa habis. Ban bocor. Dan menyadari yang kulakukan sia-sia.

Namun aku puas dengan pengalaman itu. Orang menganggapku tidak mendapat apa-apa. Aku berpendapat tidak mendapatkan apa-apa itulah yang kudapat. Jadi aku mendapat apa-apa; Pencarian jalan pulang.

Berkelana ke tempat-tempat jauh lalu mencari jalan pulang selalu mengusik kesadaran. Membuatku tertantang untuk menemukan berbagai macam kemungkinan. Waktu bertanya ke preman terminal, “Permisi bang, bis yang ke Bekasi lewat mana ya?”

“Oh, lewat sana!” katanya dengan tampang yang dibuat garang sambil menunjuk perempatan lampu merah di ujung jalan.

Sesampainya di lampu merah, pertanyaan yang sama aku lontarkan, “Misi pak, bis yang ke Bekasi lewat sini kan?” dan dijawab, “Oh, gak lewat sini!”

Seseorang menipu. Dua orang membohongi. Tiga orang mendustai. Sama saja bagiku. Bukan berapa banyaknya orang yang membohongi tapi adakah orang yang bisa kupercayai. Kemanakan harus kulabuhkan kepercayaan itu. Aku muak diombang-ambing keadaan sekaligus senang. Kesenangan yang absurd. Kesenangan untuk bisa memberi makna pada kejujuran.

Dan terima kasih telah ikut tersesat dan mencari jalan pulang bersamaku. Terima kasih masih mau di sisiku. Disaat seperti itu yang paling penting adalah bertanya dan saling mempercayai. Bukan menuduh dan menyalahkan.

Pegang erat tanganku.

Dan mari berbagi kepercayaan di tengah jalan pulang!



Bekasi, 25 Januari 2009