Laman

Sabtu, 17 September 2011

Kau ada

Pada selembar pagi
cobalah pergi ke kebun belakang

dimana suara burung dan alam merdu terdengar

sesekali cobalah bangun pada tengah malam
ketika degup jantungmu jernih berdebar

bukan untuk apa

tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada


Bekasi, 6 September 2007

Minggu, 11 September 2011

Menulis Untukmu

kau ingin aku menulis dalam alur pantun, sebuah gurindam, soneta, kwatrin atau prosa...

baiklah, ingin aku menulis apa

cinta?
Sapardi telah indah bicara cinta
pada alurliur puisi

tuhan?
Sutarji telah dalam menulis tuhan
pada baitbait sajak

social problem?
Oh, Jokpin telah arif membahasnya
pada alir syair

lalu
apa yang bisa kutulis

menulis indah temaram senja

di ujung garis pantai ketika burungburung pulang
dengan perut kenyang


menulis lindap subuh yang jauh
dengan selintas garis putih fajar
ketika kelelawar malam berhambur untuk tidur

atau
kau ingin aku menulis
keabadian pada sebutir pasir
dan surga pada sekuntum bunga liar

semua telah kutulis
untukmu


Bekasi, 4 Maret 2007

Menjadi Daun

Pada sebatang akasia hijau di sebuah sudut lereng pegunungan tumbuh sebatang tunas daun. Kecil dan merah. Sungai jernih nan sejuk tertidur dibawahnya membunyikan lagu alam yang paling subtil.

Suatu waktu, di tengah badai, daun yang mulai tumbuh besar dan kehijauan itu jatuh dalam pelukan bapak sungai. Mengalir dibawa takdir. Pasrah mengikuti lika-liku atau kelak-kelok arus yang seperti tak pernah selesai juga yang tak pernah sampai.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Suatu pagi di bulan juni, arus meninggalkannya pada sebuah batu besar. Menempel tak berdaya dibakar, terik matahari. Di atas batu, bertengger seekor bangau yang mengangkat sebelah kakinya. Sayup-sayup ia mendengar sang bangau bicara seakan pada dirinya sendiri, atau mungkin juga ia bicara padanya. “Aku ini hewan binal, dari kumpulannya terbuang kekal. Aku mau renggut sekuntum milenium lagi.”

Aha, bangau tua itu sedang membaca puisi rupanya, pikir daun. Daun mengenal puisi itu namun belum sempat memahaminya. Lebih tepatnya, ia dan puisi itu belum mau membuka diri masing-masing. Berpura-pura acuh.

“Apa yang kau lakukan pak bangau?” tanya daun. Pak bangau tidak memperhatikan pertanyaannya, sepertinya sedang berpikir dalam. Lama mereka diam. Sampai pak bangau gantian bertanya, “apa yang aku lakukan?! Kau tahu apa yang kulakukan ketika aku sedang mengangkat sebelah kakiku yang kanan?”

Kenapa ia membalikan pertanyaann itu padaku, pikir daun heran. Daun diterpa angin, menyerah.

“Aku tidak lupa untuk menurunkan sebelah kakiku yang kiri.” kata pak bangau yakin.

Setelah beberapa hari mempelajari cuaca di sekelilingnya, daun yang telah menjadi kering itu tertiup angin dan mengambang pada aliran sungai lagi.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Dalam perjalanan itu, ia bertemu seekor buaya lapar. Ia ditelan. Tertelan mungkin. Pada lambung buaya, ia melihat seekor rusa yang juga ikut tertelan. Ditelan mungkin. “buaya tidak pernah kenyang!” kata rusa, “kemarin ia menelan, ibuku, kakekku. Dan sekarang, aku.”

Daun tak banyak bicara. Disaat itu ia belajar untuk mendengarkan.

“kenapa ia tidak pergi ke laut yang punya ikan beraneka warna?” lanjut rusa berbelang kaki, “ia bisa makan sepuasnya tanpa harus hawatir kehabisan ragam.”
Irisan tajam belati tiba-tiba mengoyak lambung buaya ketika itu. Sinar matahari kembali masuk. Rusa dikeluarkan. Dan menjadi begitu bisu.

Daun dikeluarkan.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Perjalanan selanjutnya ia bertemu pemancing ikan. Daun kering telah belajar sopan santun dan mengatakan permisi ketika lewat di depan pemancing. Mau kemana kamu? Kata pemancing. Dari mana kamu? Tanyanya lagi. Siapa kamu? Apa maumu? Kenapa tubuhmu? Bagaimana nasibmu? Berapa umurmu? Bertubi-tubi.

Air sungai tetap mengalir. Disaat seperti apapun.

Ia belum sempat menjawab.

Dan akhirnya –memang akan selalu ada akhirnya— suatu sore yang cerah, ia sampai pada pelukan kakek tua samudra, bergolak-golak terbawa gelombang.

Mengalir. Terhempas. Pasrah.

Suatu saat, pikirnya, jika ada yang bertanya lagi dari mana aku, aku akan menjawab.

“aku berasal dari sebatang akasia pada sudut lereng pegunungan dimana dibawahnya mengalir sungai.”

Tapi tidak akan ada lagi yang bertanya.

Bekasi, April 2008



Seperti Sebatang Bambu

Aku akan kembali bertahan,
demi sujar kata
yang sebentar lagi akan kau ucapkan

Seperti sebatang bambu,
yang menanti kecupan
hangat senja
setelah badai seharian

Aku akan kembali bertahan,
demi sekotak janji
yang sejenak lagi akan kau lupakan

Seperti sebatang bambu,
yang menanti pelukan
hangat pagi
setelah badai semalam





Farih


gambar surga
pada tembok sekolah
taman kanak-kanak

Juli 2008

kecoak dan tempat sampah; sebuah kisah.

Sebuah tempat sampah tergeletak retak di dapur. Seekor kecoa sedang mencari-cari kepalanya yang dua hari lalu hilang.


Kecoak memulai percakapan, “hai tempat sampah, kau tahu dimana kepalaku?”

Dapur itu sangat hening. Jika ada selembar rambut jatuh, suaranya akan terdengar menggelegar dan mengagetkan seisi rumah.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu; aku tidak tahu kalau kau punya kepala.” Jawab tempat sampah retak sejujurnya, atau mungkin sebohongnya.


“Ya, kemarin ada manusia iseng menginginkan kepalaku untuk dijadikan koleksi,”
“lalu?” potong tempat sampah penasaran.

“ya lalu aku mencari-cari tempat dimana ia menyimpan kepalaku, atau mungkin juga kepala-kepala binatang-binatang lain. Apakah manusia pernah bercerita dimana ia menyimpannya padamu?”

“Loh, bagaimana mungkin tanpa kepala kau masih hidup?” tanya tempat sampah tanpa menghiraukan pertanyaan kecoak.

“Tuhan masih mau menangguhkan umurku seminggu. Tapi setelah satu minggu itu aku akan mati.” jelas kecoak.


“Kenapa mati?” tanya tempat sampah lugu, atau mungkin dungu.

“Karena tanpa kepala aku nggak bisa makan, bodoh!” jawab kecoak serius, atau mungkin sinis, atau mungkin ingin melucu.

Dapur itu masih hening. Bahkan jika ada selembar rambut jatuh, suaranya akan terdengar menggelegar dan mengagetkan seisi rumah.

“Kenapa manusia itu begitu jahat? Apa kau punya salah?” Tempat sampah empati.

“Tentu ada!” jawab kecoak datar. Juga ingin membuat celah pertanyaan.

“Apa?” tempat sampah retak bertanya bingung.

“Kesalahanku adalah karena aku dilahirkan sebagai kecoa tak berkepala.” Kecoak puas.

“...” tempat sampah mengangguk diam. Dalam hatinya ada pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan; sejak kapan kecoak tidak punya kepala.

Dapur itu mulai menggeliat.

“Terimakasih tempat sampahku yang baik!” kata kecoak menutup puisinya.


Bekasi, 4 Oktober 2007; 5:44 am