Laman

Kamis, 20 Januari 2011

Penikmat Sastra vs Penganalis Sastra

Sastra itu untuk dinikmati atau untuk dianalisa?


Pertanyaan itu menyulut ingatan saya kepada perdebatan di kalangan pencinta sastra tentang apakah kritik sastra adalah suatu kritik yang mengapreseasi atau kritik yang menganalisa?


Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama melihat sastra sebagai suatu objek analisa. Sementara kubu kedua menganggap bahwa sastra adalah suatu gejala yang muncul dalam pengalaman sehingga harusnya diapreseasi sebagai momen pisikologis, momen perjumpaan seseorang dengan presepsinya. Yang pertama nenekankan analisa yang kedua menekankan perasaan.


Pertanyaan selanjutnya —melihat perbedaan yang mendasar dalam pendekatan itu, apakah benar-benar ada ‘pertentangan’ antara keduanya?


Saya memilih untuk menjawab tidak. Karena meskipun sastra —cerita, puisi dan drama— hadir untuk dinikmati dan diapreseasi, namun bagi orang-orang yang sungguh mencintainya, pengenalan lebih lanjut merupakan suatu kebutuhan atau bahkan keharusan. Saya kutipkan sajak Sapardi...


AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



Sajak tersebut tentu indah. Sangat indah. Namun bagi orang yang berulang kali membaca sajak tersebut, akan bertanya; Apa gerangan yang membut sajak tersebut sedemikian indahnya? Apakah karena pesan yang disampaikan? Kehalusan cara menyampaikannya? Permainan bunyi bahasa? Atau asosiasi-asosiasi yang dirangsang oleh semantik kata-katanya?


Maka mulailah dicari jalan untuk memahaminya secara lebih mendalam. Menyingkap bagian demi bagian, menguraikan, dan bahkan mempertanggungjawabkan uraian tersebut. Saya berkesimpulan bahwa dalam kritik kesusastraan, penikmatan dan analisa tidak harus bertentangan apalagi dipertentangkan.


Jadi, pemujaan kepada penikmatan yang membatalkan semua analisis, atau pemujaan kepada metodologi yang akhirnya membatalkan kesempatan menikmati sebuah karya sastra, adalah merupakan pertentangan yang mubazir.

Senin, 17 Januari 2011

Ketika Kau Tertidur

Aku lupa kapan pertama kali mengenalmu.


Lagi-lagi pada lipatan waktu yang tak tercatat. Mungkin ketika para kurcaci waktu melindungimu dari sihir perempuan gila yang ingin supaya kau musnah.

Dan kau pun hanya tertidur.

Dalam balutan sutra hijau dan tersenyum. Tidur yang paling indah yang pernah kau sajikan. Sampai datang seorang pangeran yang terobsesi dengan petualangan.

Dan kau pun hanya tertidur.

Diam.

Pangeran tampan pergi meninggalkanmu di tengah hutan, karena tak tahu yang mesti ia lakukan. “Tidurnya menyisakan perih.” Katanya kepada para hulubalang sambil ngeloyor pulang.

Dan kau pun hanya tertidur.

Ketika malam menyelimutimu dengan kedamaian, dan gerimis mulai membasahi sutra hijau yang kau kenakan.

Dan kau pun hanya tertidur.

Ketika musim terus berganti dan para pangeran berlalulalang bahkan tanpa memandang. Burung-burung akhirnya membuat sarang di rambutmu yang ikal dan hangat. Laba-laba memintal benang di wajahmu. Dan kurcaci waktu hanya diam termagu.

Dan kau pun hanya tertidur.

Sampai datang satu musim lagi. Suatu musim yang ia melupakanmu dan kamu melupakannya. Di musim yang teduh tanpa hujan. Panas tanpa kekeringan. Musim yang paling sempurna yang pernah dibuat tuhan. Semua berbahagia kecuali kamu. Karena kamu masih tertidur.

Dan kaupun hanya tertidur.

Sampai suatu hari dimana para musim enggan tuk menyapamu lagi. Setelah hewan-hewan hutan tidak lagi peduli. Dan para pangeran mati. Dan panggung sepi. Dan drama telah selesai.

Dan kaupun masih tertidur.

Menyunggingkan senyum kemarin yang telah bercampur kegetiran abab mulut. Matamu terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan memandangku tajam.

Bangkit dan mendekati,

penonton barisan depan yang tak pernah sedetikpun matanya terpejam.



Bekasi, 27 Nopember 2009

Penulis muda pada sebuah puisi

Pada suatu sore, seorang penulis muda datang ke sebuah toko buku besar di kotanya. Ia bertanya tentang sebuah buku yang baru saja diterbitkan. Pelayan toko menunjuk dan menuntun anak itu ke rak di mana buku itu dipajang.


“Ini buku karangan saya, Mas!” kata penulis muda itu dengan bangga ke pelayan toko sambil mengangkat buku itu dengan bangga.

“Oya?” kata pelayan toko datar.

“Saya boleh mebeli buku ini, Mas!” lanjut si anak antusias.

“Oh, ya silahkan!”

“Apa tidak ada diskon?”

“Tidak ada.”

“Sama sekali tidak ada?”

“Sama sekali tidak ada.”

“Tapi uang saya kurang, Mas.”

“Anda kan penulisnya?” kata pelayan toko sambil meletakan buku itu ke tempat semula, “Bukankah penulis mendapat royalty dari buku karangannya?”

“Ya, tapi itu kan perenambulan.” Kata anak itu, “Apakah aku harus menunggu sampai enam bulan lagi?” lanjutnya dalam hati.

“Yah, itu cukup untuk membuat karya baru lagi, kan?” kata pelayan toko sambil pergi meninggalkannya.

Ia keluar dari toko itu dengan kecewa. Tapi dalam hatinya ia bertekad ingin membeli buku itu. Sekedar untuk kenang-kenangan lah.

Ditengah jalan pulang, ia melihat tukang pakaian bekas. Dalam hatinya terbersit keinginan yang tak sempat ia ucap, “Ah, mungkin harga celanaku cukup untuk membeli bukuku sendiri.”



Bekasi, Juni 2009