Pada hujan
pada awan
pada pagi
Bekasi, November 2007
Sabtu, 31 Desember 2011
Rabu, 07 Desember 2011
doa sebelum tidur
Pagi ini
aku ingin memejamkan mata
untuk tidur
dalam kepala
masih bergelayut kenyataan bahwa
segalanya mungkin saja terjadi
dan betapa relatifnya kebenaran
Semoga
segalanya tidak terbawa dalam lelap
Selamat pagi!
selamat tidur
Bekasi, 3 November 2007
aku ingin memejamkan mata
untuk tidur
dalam kepala
masih bergelayut kenyataan bahwa
segalanya mungkin saja terjadi
dan betapa relatifnya kebenaran
Semoga
segalanya tidak terbawa dalam lelap
Selamat pagi!
selamat tidur
Bekasi, 3 November 2007
Rabu, 02 November 2011
Rayuan Pantun-pantun
Dalam seminggu ada tujuh hari
Dalam setahun ada duabelas sasi
Kurajut untukmu bait-bait puisi
Karena cuma itu yang kumiliki
Ada duri dalam sepatu
Jangan dipakai walau dipaksa
Ada pelangi dimatamu
Menusuk hati tebarkan rasa
Pergi kepasar membeli baju
Mencari berputar berkeliling-keliling
Ada yang tertinggal dalam dadaku
Sekeping hatimu yang berdenting-denting
Mencari jarum di dalam peti
Peti yang penuh dengan jerami
Jika dinda berkenan hati
Menikahlah denganku suatu hari nanti
Bekasi, Oktober 2007
Dalam setahun ada duabelas sasi
Kurajut untukmu bait-bait puisi
Karena cuma itu yang kumiliki
Ada duri dalam sepatu
Jangan dipakai walau dipaksa
Ada pelangi dimatamu
Menusuk hati tebarkan rasa
Pergi kepasar membeli baju
Mencari berputar berkeliling-keliling
Ada yang tertinggal dalam dadaku
Sekeping hatimu yang berdenting-denting
Mencari jarum di dalam peti
Peti yang penuh dengan jerami
Jika dinda berkenan hati
Menikahlah denganku suatu hari nanti
Bekasi, Oktober 2007
Sabtu, 22 Oktober 2011
hari Minggu
aku sudah pulang pada ranum pagi
“Ini kan hari Minggu, Sayang!”
dimana ingatan berjibaku dengan rindu
pada kesendirian
Bekasi, Oktober 2007
“Ini kan hari Minggu, Sayang!”
dimana ingatan berjibaku dengan rindu
pada kesendirian
Bekasi, Oktober 2007
Seperti apa hubungan buku dan aku?
Seperti Nobita dan komik-komik
Sekeping-sekeping tuk komik di akhir Minggu
yang habis dibaca satu tarikan napas
untuk tawa selama mampu bernapas
Bekasi, Oktober 2007
Sekeping-sekeping tuk komik di akhir Minggu
yang habis dibaca satu tarikan napas
untuk tawa selama mampu bernapas
Bekasi, Oktober 2007
Minggu, 02 Oktober 2011
yang tak sempat terucap
“...aku tahu apa yang tertinggal
darimu; sekeping hati, karena aku
menemukannya bersisian dalam dada
ku berdentingdenting bersamaan
saat mata tak dapat terpejam lagi;
8 September 2007
darimu; sekeping hati, karena aku
menemukannya bersisian dalam dada
ku berdentingdenting bersamaan
saat mata tak dapat terpejam lagi;
8 September 2007
Sabtu, 17 September 2011
Kau ada
Pada selembar pagi
cobalah pergi ke kebun belakang
cobalah pergi ke kebun belakang
dimana suara burung dan alam merdu terdengar
sesekali cobalah bangun pada tengah malam
ketika degup jantungmu jernih berdebar
bukan untuk apa
tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada
Bekasi, 6 September 2007
ketika degup jantungmu jernih berdebar
bukan untuk apa
tapi tuk pikir dan renungi
bahwa Kau ada
Bekasi, 6 September 2007
Minggu, 11 September 2011
Menulis Untukmu
kau ingin aku menulis dalam alur pantun, sebuah gurindam, soneta, kwatrin atau prosa...
baiklah, ingin aku menulis apa
cinta?
Sapardi telah indah bicara cinta
pada alurliur puisi
tuhan?
Sutarji telah dalam menulis tuhan
pada baitbait sajak
social problem?
Oh, Jokpin telah arif membahasnya
pada alir syair
lalu
apa yang bisa kutulis
menulis indah temaram senja
di ujung garis pantai ketika burungburung pulang
dengan perut kenyang
baiklah, ingin aku menulis apa
cinta?
Sapardi telah indah bicara cinta
pada alurliur puisi
tuhan?
Sutarji telah dalam menulis tuhan
pada baitbait sajak
social problem?
Oh, Jokpin telah arif membahasnya
pada alir syair
lalu
apa yang bisa kutulis
menulis indah temaram senja
di ujung garis pantai ketika burungburung pulang
dengan perut kenyang
menulis lindap subuh yang jauh
dengan selintas garis putih fajar
ketika kelelawar malam berhambur untuk tidur
atau
kau ingin aku menulis
keabadian pada sebutir pasir
dan surga pada sekuntum bunga liar
semua telah kutulis
untukmu
Bekasi, 4 Maret 2007
Menjadi Daun
Pada sebatang akasia hijau di sebuah sudut lereng pegunungan tumbuh sebatang tunas daun. Kecil dan merah. Sungai jernih nan sejuk tertidur dibawahnya membunyikan lagu alam yang paling subtil.
Suatu waktu, di tengah badai, daun yang mulai tumbuh besar dan kehijauan itu jatuh dalam pelukan bapak sungai. Mengalir dibawa takdir. Pasrah mengikuti lika-liku atau kelak-kelok arus yang seperti tak pernah selesai juga yang tak pernah sampai.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Suatu pagi di bulan juni, arus meninggalkannya pada sebuah batu besar. Menempel tak berdaya dibakar, terik matahari. Di atas batu, bertengger seekor bangau yang mengangkat sebelah kakinya. Sayup-sayup ia mendengar sang bangau bicara seakan pada dirinya sendiri, atau mungkin juga ia bicara padanya. “Aku ini hewan binal, dari kumpulannya terbuang kekal. Aku mau renggut sekuntum milenium lagi.”
Aha, bangau tua itu sedang membaca puisi rupanya, pikir daun. Daun mengenal puisi itu namun belum sempat memahaminya. Lebih tepatnya, ia dan puisi itu belum mau membuka diri masing-masing. Berpura-pura acuh.
“Apa yang kau lakukan pak bangau?” tanya daun. Pak bangau tidak memperhatikan pertanyaannya, sepertinya sedang berpikir dalam. Lama mereka diam. Sampai pak bangau gantian bertanya, “apa yang aku lakukan?! Kau tahu apa yang kulakukan ketika aku sedang mengangkat sebelah kakiku yang kanan?”
Kenapa ia membalikan pertanyaann itu padaku, pikir daun heran. Daun diterpa angin, menyerah.
“Aku tidak lupa untuk menurunkan sebelah kakiku yang kiri.” kata pak bangau yakin.
Setelah beberapa hari mempelajari cuaca di sekelilingnya, daun yang telah menjadi kering itu tertiup angin dan mengambang pada aliran sungai lagi.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Dalam perjalanan itu, ia bertemu seekor buaya lapar. Ia ditelan. Tertelan mungkin. Pada lambung buaya, ia melihat seekor rusa yang juga ikut tertelan. Ditelan mungkin. “buaya tidak pernah kenyang!” kata rusa, “kemarin ia menelan, ibuku, kakekku. Dan sekarang, aku.”
Daun tak banyak bicara. Disaat itu ia belajar untuk mendengarkan.
“kenapa ia tidak pergi ke laut yang punya ikan beraneka warna?” lanjut rusa berbelang kaki, “ia bisa makan sepuasnya tanpa harus hawatir kehabisan ragam.”
Irisan tajam belati tiba-tiba mengoyak lambung buaya ketika itu. Sinar matahari kembali masuk. Rusa dikeluarkan. Dan menjadi begitu bisu.
Daun dikeluarkan.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Perjalanan selanjutnya ia bertemu pemancing ikan. Daun kering telah belajar sopan santun dan mengatakan permisi ketika lewat di depan pemancing. Mau kemana kamu? Kata pemancing. Dari mana kamu? Tanyanya lagi. Siapa kamu? Apa maumu? Kenapa tubuhmu? Bagaimana nasibmu? Berapa umurmu? Bertubi-tubi.
Air sungai tetap mengalir. Disaat seperti apapun.
Ia belum sempat menjawab.
Dan akhirnya –memang akan selalu ada akhirnya— suatu sore yang cerah, ia sampai pada pelukan kakek tua samudra, bergolak-golak terbawa gelombang.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Suatu saat, pikirnya, jika ada yang bertanya lagi dari mana aku, aku akan menjawab.
“aku berasal dari sebatang akasia pada sudut lereng pegunungan dimana dibawahnya mengalir sungai.”
Tapi tidak akan ada lagi yang bertanya.
Bekasi, April 2008
Suatu waktu, di tengah badai, daun yang mulai tumbuh besar dan kehijauan itu jatuh dalam pelukan bapak sungai. Mengalir dibawa takdir. Pasrah mengikuti lika-liku atau kelak-kelok arus yang seperti tak pernah selesai juga yang tak pernah sampai.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Suatu pagi di bulan juni, arus meninggalkannya pada sebuah batu besar. Menempel tak berdaya dibakar, terik matahari. Di atas batu, bertengger seekor bangau yang mengangkat sebelah kakinya. Sayup-sayup ia mendengar sang bangau bicara seakan pada dirinya sendiri, atau mungkin juga ia bicara padanya. “Aku ini hewan binal, dari kumpulannya terbuang kekal. Aku mau renggut sekuntum milenium lagi.”
Aha, bangau tua itu sedang membaca puisi rupanya, pikir daun. Daun mengenal puisi itu namun belum sempat memahaminya. Lebih tepatnya, ia dan puisi itu belum mau membuka diri masing-masing. Berpura-pura acuh.
“Apa yang kau lakukan pak bangau?” tanya daun. Pak bangau tidak memperhatikan pertanyaannya, sepertinya sedang berpikir dalam. Lama mereka diam. Sampai pak bangau gantian bertanya, “apa yang aku lakukan?! Kau tahu apa yang kulakukan ketika aku sedang mengangkat sebelah kakiku yang kanan?”
Kenapa ia membalikan pertanyaann itu padaku, pikir daun heran. Daun diterpa angin, menyerah.
“Aku tidak lupa untuk menurunkan sebelah kakiku yang kiri.” kata pak bangau yakin.
Setelah beberapa hari mempelajari cuaca di sekelilingnya, daun yang telah menjadi kering itu tertiup angin dan mengambang pada aliran sungai lagi.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Dalam perjalanan itu, ia bertemu seekor buaya lapar. Ia ditelan. Tertelan mungkin. Pada lambung buaya, ia melihat seekor rusa yang juga ikut tertelan. Ditelan mungkin. “buaya tidak pernah kenyang!” kata rusa, “kemarin ia menelan, ibuku, kakekku. Dan sekarang, aku.”
Daun tak banyak bicara. Disaat itu ia belajar untuk mendengarkan.
“kenapa ia tidak pergi ke laut yang punya ikan beraneka warna?” lanjut rusa berbelang kaki, “ia bisa makan sepuasnya tanpa harus hawatir kehabisan ragam.”
Irisan tajam belati tiba-tiba mengoyak lambung buaya ketika itu. Sinar matahari kembali masuk. Rusa dikeluarkan. Dan menjadi begitu bisu.
Daun dikeluarkan.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Perjalanan selanjutnya ia bertemu pemancing ikan. Daun kering telah belajar sopan santun dan mengatakan permisi ketika lewat di depan pemancing. Mau kemana kamu? Kata pemancing. Dari mana kamu? Tanyanya lagi. Siapa kamu? Apa maumu? Kenapa tubuhmu? Bagaimana nasibmu? Berapa umurmu? Bertubi-tubi.
Air sungai tetap mengalir. Disaat seperti apapun.
Ia belum sempat menjawab.
Dan akhirnya –memang akan selalu ada akhirnya— suatu sore yang cerah, ia sampai pada pelukan kakek tua samudra, bergolak-golak terbawa gelombang.
Mengalir. Terhempas. Pasrah.
Suatu saat, pikirnya, jika ada yang bertanya lagi dari mana aku, aku akan menjawab.
“aku berasal dari sebatang akasia pada sudut lereng pegunungan dimana dibawahnya mengalir sungai.”
Tapi tidak akan ada lagi yang bertanya.
Bekasi, April 2008
Seperti Sebatang Bambu
Aku akan kembali bertahan,
demi sujar kata
yang sebentar lagi akan kau ucapkan
Seperti sebatang bambu,
yang menanti kecupan
hangat senja
setelah badai seharian
Aku akan kembali bertahan,
demi sekotak janji
yang sejenak lagi akan kau lupakan
Seperti sebatang bambu,
yang menanti pelukan
hangat pagi
setelah badai semalam
demi sujar kata
yang sebentar lagi akan kau ucapkan
Seperti sebatang bambu,
yang menanti kecupan
hangat senja
setelah badai seharian
Aku akan kembali bertahan,
demi sekotak janji
yang sejenak lagi akan kau lupakan
Seperti sebatang bambu,
yang menanti pelukan
hangat pagi
setelah badai semalam
kecoak dan tempat sampah; sebuah kisah.
Sebuah tempat sampah tergeletak retak di dapur. Seekor kecoa sedang mencari-cari kepalanya yang dua hari lalu hilang.
Kecoak memulai percakapan, “hai tempat sampah, kau tahu dimana kepalaku?”
Dapur itu sangat hening. Jika ada selembar rambut jatuh, suaranya akan terdengar menggelegar dan mengagetkan seisi rumah.
“Aku tidak tahu. Yang aku tahu; aku tidak tahu kalau kau punya kepala.” Jawab tempat sampah retak sejujurnya, atau mungkin sebohongnya.
“Ya, kemarin ada manusia iseng menginginkan kepalaku untuk dijadikan koleksi,”
“lalu?” potong tempat sampah penasaran.
“ya lalu aku mencari-cari tempat dimana ia menyimpan kepalaku, atau mungkin juga kepala-kepala binatang-binatang lain. Apakah manusia pernah bercerita dimana ia menyimpannya padamu?”
“Loh, bagaimana mungkin tanpa kepala kau masih hidup?” tanya tempat sampah tanpa menghiraukan pertanyaan kecoak.
“Tuhan masih mau menangguhkan umurku seminggu. Tapi setelah satu minggu itu aku akan mati.” jelas kecoak.
“Kenapa mati?” tanya tempat sampah lugu, atau mungkin dungu.
“Karena tanpa kepala aku nggak bisa makan, bodoh!” jawab kecoak serius, atau mungkin sinis, atau mungkin ingin melucu.
Dapur itu masih hening. Bahkan jika ada selembar rambut jatuh, suaranya akan terdengar menggelegar dan mengagetkan seisi rumah.
“Kenapa manusia itu begitu jahat? Apa kau punya salah?” Tempat sampah empati.
“Tentu ada!” jawab kecoak datar. Juga ingin membuat celah pertanyaan.
“Apa?” tempat sampah retak bertanya bingung.
“Kesalahanku adalah karena aku dilahirkan sebagai kecoa tak berkepala.” Kecoak puas.
“...” tempat sampah mengangguk diam. Dalam hatinya ada pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan; sejak kapan kecoak tidak punya kepala.
Dapur itu mulai menggeliat.
“Terimakasih tempat sampahku yang baik!” kata kecoak menutup puisinya.
Bekasi, 4 Oktober 2007; 5:44 am
Sabtu, 23 Juli 2011
Rindu
Malam ini, seperti juga beberapa malam sebelumnya, hujan memaksa anak itu menepi ke pinggir jalan. Di bawah lampu penerang jalan, rintik-rintik air langit itu seperti ribuan jarum.
Aku memandangi kucuran air dari sebuah talang. Lelah dan kantuk menyerang. Dibenaknya hanya ada satu keinginan; segera pulang.
Bilamanakah hujan akan reda? Lama sekali menunggu hujan reda. Tapi entah di batas waktu yang mana ia ingat seorang gadis. Segalanya tentangnya. Andai kamu ada di kota ini, menepi menunggu hujan seperti yang kulakukan? Ah, tentu saja itu hanya angan-angan, batinnya.
Sekarang ini mungkin kamu sedang asik di depan televisi di dalam rumahmu yang hangat bersama adik-adikmu membicarakan kegiatan seharian tadi. Mengharapkan kehadiranmu di sini hanyalah hayalan kosong. Tapi salahkah orang punya hayalan? Salahkah seseorang punya angan-angan? Walau itu kosong? Bagi orang sepertiku hayalan itu penting. Membuatku masih bertahan hidup. Tiba-tiba ia merasa melankolis.
Tentu, sekali lagi ini hanya harapan, aku berharap kamu ada disini. Jika begitu, semoga hujan masih mau berlarian sampai menusuk di sela-sela fajar yang masih jauh menyingsing. Semua itu tidak masalah jika kamu ada di sini. Sekedar menemaniku. Walaupun tidak bicara. Semalaman akan menjadi sejenak. Sebuah relatifitas perasaan.
2008
Selasa, 14 Juni 2011
Simbolisasi Untuk Aksi

Begitulah yang pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma, sang jurnalis yang sastrawan itu. Teks tentu tidak akan pernah kosong dari konteks. Seno menulis demikian pada konteks ketika pemerintahan terlalu membatasi pers. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, jurnalisme dibungkam dengan berbagai macam cara. Jurnalisme yang harus bicara berdasarkan fakta dan objektif cenderung kalah dengan kekuasaan yang besar dan otoriter.
Sastra bicara tentu dengan bahasanya sediri yang berbeda dengan jurnalisme. Karya sastra yang baik bersifat ambigu, mempunyai banyak sisi pemahaman. Ia tidak seperti kitab undang-undang atau kitab suci yang saklek dan cenderung menganut sisi kebenaran yang satu. Sastra juga cenderung bersifat subjektif dan lebih menekankan aspek perasaan. Hal yang tentu tidak dimiliki jurnalisme yang faktaif dan objektif. Satu hal lagi, ketika jurnalisme bicara dengan bahasa yang lugas dan jelas, sastra malah bicara melalui bahasa yang ambigu dan penuh simbol.
Jumat, 03 Juni 2011
kamu
andai kau semudah sudah
atau segampang bilang
tentu aku tidak perlu peluru
juga tak butuh peluh
untuk bisa mengertimu
Bekasi, September 2008
Selasa, 10 Mei 2011
puisi
aku ingin buat puisi sesederhana pelangi
untuk kupersembahkan
pada hujan
aku ingin buat puisi seindah bebunga
untuk kupersembahkan
pada lelebah
aku ingin buat puisi sedalam gelap
untuk kupersembahkan
pada laut
aku ingin buat puisi setinggi gunung
untuk kupersembahkan
pada langit
aku ingin buat puisi sewujud-Mu
untuk kupersembahkan
pada-Mu
puisiku berderai
walau takkan pernah sampai[i]
Bekasi, 29 September 2008
[i] Betapapun indah segala apa yang mampu dibuat manusia adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, semakin sederhana yang dapat disombongkan manusia merupakan hal terbaik yang dibuatnya untuk menyatakan kebesaran itu. (M. Asad)
Jumat, 29 April 2011
hanya mencoba jujur

pada topeng yang mana lagi
kita menyembunyikan luka pada wajah
memar yang dalam
hitam
berapa topeng yang kita pakai untuk
bertemu macam-macam topeng yang lain
pada sebuah panggung topeng dunia
pada pikiran-pikiran
yang berkelebat di balik topeng-topeng
dan melepaskan
adalah cara jujur untuk bicara pada diri sendiri
juga pada tuhan
Bekasi, Juni 2008
Rabu, 23 Maret 2011
Belajar dari Kodok
Kodok adalah sebuah manifestasi sifat rendah hati. Kodok adalah hewan yang melompat dengan jumawa dan apa adanya. Setiap orang yang bertemu dengannya akan minggir. Entah ada kekuatan apa yang membuatnya disegani. Berbeda dengan ular. Jika seekor ular berlalu di depan segerombolan orang, setidak bersalah apapun ular itu, setidak berbisa apapun ular itu, gerombolan itu pasti bersiap-siap untuk mebunuhnya.
Kodok mewarisi sikap rendah hati dan berwibawa yang tidak dimikliki ular. Tubuh kodok seperti tubuh semar. Dan tidak heranlah jika ia pun mewarisi sikap bijak semar.
Ia adalah hewan bebas. Bukan peliharaan. Walaupun ada orang yang memelihara kodok —entah sebagai hoby ataupun ternak, tetap saja ia akan menjadi kodok. Yang melompat. Bukan berjalan dan menjilat seperti anjing.
Sifat kodok yang rendah hati dan bersahaja seharusnya ada di rumah-rumah hati kita. Supaya kita bisa lebih menghargai kehidupan. Menjalaninya bukan dengan keponggahan. Tapi dengan sikap tawaduk. Sang kodok juga mengajak kita melihat kembali kemapanan yang berada di rumah-rumah pikiran dan hati kita. Ia mengusik dan mempertanyakan kembali arti kehidupan dalam rumah-rumah yang hangat itu.
Namun kebanyakan yang terjadi adalah kita menjadi terlalu egois. Kodok dianggap terlalu seenaknya merusak tatanan yang telah begitu lama kita agung-agungkan. Yang telah lama kita mapan-mapankan. Dan tentu kebanyakan kita tidak senang dengan itu. Akhirnya kita memutuskan untuk membunuhnya. Membunuhnya berarti melindungi kemapanan dalam kehidupan. Kemapanan yang biasanya menimbulkan tanda tanya besar. Dan kita menjadi begitu bernafsu untuk membunuhnya.
Namun kebenaran akan selalu ada —entah kebenaran seperti apa yang saya maksud. Mungkin kebenaran yang tetap relatif. Dan memang jelas sekali kebenaran tidak dapat dibungkam. Membungkam kebenaran adalah tindakan yang paling bodoh yang pernah dilakukan manusia. Kalaupun ia ditangkap dan dibungkam ia akan merucut dan memasuki rongga-rongga pikiran orang lain. Ia tidak dapat dibunuh, begitupun kodok. Ia tidak sendirian. Begitu banyak kebenaran yang terang benderang. Yang kita coba-tutup-tutupi karena keegoisan.
Dan sekali lagi kodok mengajarkan kita untuk bersikap jujur. Jujur dan bersahaja menjalani hidup. Bukan berlebih-lebihan.
Tapi tetap saja kita masih mengaggap, kejadian itu terlalu/ /berlebihan/
Kodok mewarisi sikap rendah hati dan berwibawa yang tidak dimikliki ular. Tubuh kodok seperti tubuh semar. Dan tidak heranlah jika ia pun mewarisi sikap bijak semar.
Ia adalah hewan bebas. Bukan peliharaan. Walaupun ada orang yang memelihara kodok —entah sebagai hoby ataupun ternak, tetap saja ia akan menjadi kodok. Yang melompat. Bukan berjalan dan menjilat seperti anjing.
Sifat kodok yang rendah hati dan bersahaja seharusnya ada di rumah-rumah hati kita. Supaya kita bisa lebih menghargai kehidupan. Menjalaninya bukan dengan keponggahan. Tapi dengan sikap tawaduk. Sang kodok juga mengajak kita melihat kembali kemapanan yang berada di rumah-rumah pikiran dan hati kita. Ia mengusik dan mempertanyakan kembali arti kehidupan dalam rumah-rumah yang hangat itu.
Namun kebanyakan yang terjadi adalah kita menjadi terlalu egois. Kodok dianggap terlalu seenaknya merusak tatanan yang telah begitu lama kita agung-agungkan. Yang telah lama kita mapan-mapankan. Dan tentu kebanyakan kita tidak senang dengan itu. Akhirnya kita memutuskan untuk membunuhnya. Membunuhnya berarti melindungi kemapanan dalam kehidupan. Kemapanan yang biasanya menimbulkan tanda tanya besar. Dan kita menjadi begitu bernafsu untuk membunuhnya.
Namun kebenaran akan selalu ada —entah kebenaran seperti apa yang saya maksud. Mungkin kebenaran yang tetap relatif. Dan memang jelas sekali kebenaran tidak dapat dibungkam. Membungkam kebenaran adalah tindakan yang paling bodoh yang pernah dilakukan manusia. Kalaupun ia ditangkap dan dibungkam ia akan merucut dan memasuki rongga-rongga pikiran orang lain. Ia tidak dapat dibunuh, begitupun kodok. Ia tidak sendirian. Begitu banyak kebenaran yang terang benderang. Yang kita coba-tutup-tutupi karena keegoisan.
Dan sekali lagi kodok mengajarkan kita untuk bersikap jujur. Jujur dan bersahaja menjalani hidup. Bukan berlebih-lebihan.
Tapi tetap saja kita masih mengaggap, kejadian itu terlalu/ /berlebihan/
Sajak kodok
seekor kodok masuk
ke rumah ketika hujan
di dalam rumah ia berlompatan
lompat ke meja, kursi dan
dinding
kodok memang akan tetap
menjadi kodok
walaupun masuk ke rumah
aku ingin membunuh kodok menjijikan itu
tapi
tentu sang kodok mengajak teman-temannya
untuk balas dendam
membuatku teriak ketakutan
dan aku berpendapat, kejadian itu terlalu
berlebihan
Juli 2008
Selasa, 08 Februari 2011
dan tentang anak manusia

Pada sebuah musim kemarau, dengan kegalauan yang tak terucap dari balik kelopak matanya, anak itu datang. Bersama sepi ia berjinjit melewati sungai dangkal yang penuh batu-batu besar. Tangannya menggengam segumpal tanah dari makam ayahnya yang baru seminggu kemarin dikubur di Tanah Kusir.
Semilir angin menyambut tangan-tangan sepi sambil berlarian di sela-sela rambutnya yang penuh debu, sesekali ia menggoyang-goyangkannya dan mengembalikannya ke tempat semula, sesekali membuat style baru. Mereka seperti ingin berjibaku, menuju sebuah tempat dimana kematian bersemayam diam.
Mereka telah sampai.
Gincu jingga yang dipoleskan ibunya kemarin telah pudar, berganti warna pucat dan terkelupas. Kemeja putih pemberian ibunya pun lusuh dan kotor seperti menyimpan selaksa derita duka perjalanan, salah satu kantungnya robek berjuntai.
Ia telah lama sampai.
“aku telah sampai.” Si anak berucap lirih hampir tak terdengar.
Sambil menatap yang bersemayam diam ia meneruskan, “aku telah sampai pada pilihan-pilihan yang telah kau pilihkan dan kupilih. Sekarang telah bercampur deru debar dera diam desah dunguku dengan dupa dahsyatmu. Ada apa denganmu dan keegoisanmu?”
Tak ada jawaban. Sepi berteriak ngilu menghentikan riak-riak aliran sungai.
“aku bosan berdebat denganmu, kau dan diammu cukup membuatku frustasi. Tidak akan pernah kulupa pertemuan pertama kita pada lipatan waktu yang tak tercatat, pada masa dimana aku hanyalah satu dari ratusan juta embrio hidup, tujuh ratus tahun sebelum jagad raya ini tercipta. Tentu kau ingat itu, bukan?.
Sunyi.
Gumpalan-gumpalan awan hitam pada langit-langit senja berderak-derak.
“kalau berani satu lawan satu. Pasukamu terlalu banyak, begitu tangguh untuk kukalahkan. Kalau berani satu-satu, tanpa senjata, tanpa waktu, tanpa wasit, tanpa aturan, tangan kosong. Kalau berani satu! Apa kau berani?”
Semilir angin menggoyang-goyangkan rambut si anak. Masih tak ada jawaban.
Si anak serta merta melempar bongkahan tanah yang digengamnya, kematian menyalak galak diantara sepi, angin dan senja yang bersorak. Ia bangkit kemudian balas memukul meninggalkan luka di pelipis mata si anak. Tendangan telak juga mendarat tepat di perut buncit kematian dan membuatnya terpental berkilo-kilo meter.
Terus dan terus. Entah berapa banyak mereka mendaratkan pukulan dan tendangan masing-masing. Entah berapa lama mereka melakukannya. Berjibakujibakuberjibaku. Meninggalkan memar-memar ungu. Sampai tanpa sadar mereka sadar bahwa kematian adalah si anak dan si anak adalah kematian itu sendiri.
Keduanya mati.
Gerombolan awan menutup langit-langit senja itu, menjadikannya lindap paripurna.
Tetes hujan awal musim telah jatuh. Basah.
Senja mati.
Sepi pelan berkata “maut telah hadir dalam hidup, membenih, tumbuh dan kemudian memagut habis diri.”
Hujan makin riang.
Bekasi, September 2007
Senin, 07 Februari 2011
namamu pada sebuah situs
begitu sentimentil
menemukan sebuah situs
jutaan tahun
mengingatkan pada kepurbaan
pada zaman dimana tuhan masih mengutus nabinabi
kepada percakapan musafiraun
di tepi pantai yang paling diam
pada sebuah malam
yang mengenangnya membuatmu luruh
ketika
kau ingat
kita pernah begitu dekat
Bekasi, 20 Juli 2007
Kamis, 20 Januari 2011
Penikmat Sastra vs Penganalis Sastra
Sastra itu untuk dinikmati atau untuk dianalisa?
Pertanyaan itu menyulut ingatan saya kepada perdebatan di kalangan pencinta sastra tentang apakah kritik sastra adalah suatu kritik yang mengapreseasi atau kritik yang menganalisa?
Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama melihat sastra sebagai suatu objek analisa. Sementara kubu kedua menganggap bahwa sastra adalah suatu gejala yang muncul dalam pengalaman sehingga harusnya diapreseasi sebagai momen pisikologis, momen perjumpaan seseorang dengan presepsinya. Yang pertama nenekankan analisa yang kedua menekankan perasaan.
Pertanyaan selanjutnya —melihat perbedaan yang mendasar dalam pendekatan itu, apakah benar-benar ada ‘pertentangan’ antara keduanya?
Saya memilih untuk menjawab tidak. Karena meskipun sastra —cerita, puisi dan drama— hadir untuk dinikmati dan diapreseasi, namun bagi orang-orang yang sungguh mencintainya, pengenalan lebih lanjut merupakan suatu kebutuhan atau bahkan keharusan. Saya kutipkan sajak Sapardi...
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sajak tersebut tentu indah. Sangat indah. Namun bagi orang yang berulang kali membaca sajak tersebut, akan bertanya; Apa gerangan yang membut sajak tersebut sedemikian indahnya? Apakah karena pesan yang disampaikan? Kehalusan cara menyampaikannya? Permainan bunyi bahasa? Atau asosiasi-asosiasi yang dirangsang oleh semantik kata-katanya?
Maka mulailah dicari jalan untuk memahaminya secara lebih mendalam. Menyingkap bagian demi bagian, menguraikan, dan bahkan mempertanggungjawabkan uraian tersebut. Saya berkesimpulan bahwa dalam kritik kesusastraan, penikmatan dan analisa tidak harus bertentangan apalagi dipertentangkan.
Jadi, pemujaan kepada penikmatan yang membatalkan semua analisis, atau pemujaan kepada metodologi yang akhirnya membatalkan kesempatan menikmati sebuah karya sastra, adalah merupakan pertentangan yang mubazir.
Senin, 17 Januari 2011
Ketika Kau Tertidur
Aku lupa kapan pertama kali mengenalmu.
Lagi-lagi pada lipatan waktu yang tak tercatat. Mungkin ketika para kurcaci waktu melindungimu dari sihir perempuan gila yang ingin supaya kau musnah.
Dan kau pun hanya tertidur.
Dalam balutan sutra hijau dan tersenyum. Tidur yang paling indah yang pernah kau sajikan. Sampai datang seorang pangeran yang terobsesi dengan petualangan.
Dan kau pun hanya tertidur.
Diam.
Pangeran tampan pergi meninggalkanmu di tengah hutan, karena tak tahu yang mesti ia lakukan. “Tidurnya menyisakan perih.” Katanya kepada para hulubalang sambil ngeloyor pulang.
Dan kau pun hanya tertidur.
Ketika malam menyelimutimu dengan kedamaian, dan gerimis mulai membasahi sutra hijau yang kau kenakan.
Dan kau pun hanya tertidur.
Ketika musim terus berganti dan para pangeran berlalulalang bahkan tanpa memandang. Burung-burung akhirnya membuat sarang di rambutmu yang ikal dan hangat. Laba-laba memintal benang di wajahmu. Dan kurcaci waktu hanya diam termagu.
Dan kau pun hanya tertidur.
Sampai datang satu musim lagi. Suatu musim yang ia melupakanmu dan kamu melupakannya. Di musim yang teduh tanpa hujan. Panas tanpa kekeringan. Musim yang paling sempurna yang pernah dibuat tuhan. Semua berbahagia kecuali kamu. Karena kamu masih tertidur.
Dan kaupun hanya tertidur.
Sampai suatu hari dimana para musim enggan tuk menyapamu lagi. Setelah hewan-hewan hutan tidak lagi peduli. Dan para pangeran mati. Dan panggung sepi. Dan drama telah selesai.
Dan kaupun masih tertidur.
Menyunggingkan senyum kemarin yang telah bercampur kegetiran abab mulut. Matamu terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan memandangku tajam.
Bangkit dan mendekati,
penonton barisan depan yang tak pernah sedetikpun matanya terpejam.
Bekasi, 27 Nopember 2009
Lagi-lagi pada lipatan waktu yang tak tercatat. Mungkin ketika para kurcaci waktu melindungimu dari sihir perempuan gila yang ingin supaya kau musnah.
Dan kau pun hanya tertidur.
Dalam balutan sutra hijau dan tersenyum. Tidur yang paling indah yang pernah kau sajikan. Sampai datang seorang pangeran yang terobsesi dengan petualangan.
Dan kau pun hanya tertidur.
Diam.
Pangeran tampan pergi meninggalkanmu di tengah hutan, karena tak tahu yang mesti ia lakukan. “Tidurnya menyisakan perih.” Katanya kepada para hulubalang sambil ngeloyor pulang.
Dan kau pun hanya tertidur.
Ketika malam menyelimutimu dengan kedamaian, dan gerimis mulai membasahi sutra hijau yang kau kenakan.
Dan kau pun hanya tertidur.
Ketika musim terus berganti dan para pangeran berlalulalang bahkan tanpa memandang. Burung-burung akhirnya membuat sarang di rambutmu yang ikal dan hangat. Laba-laba memintal benang di wajahmu. Dan kurcaci waktu hanya diam termagu.
Dan kau pun hanya tertidur.
Sampai datang satu musim lagi. Suatu musim yang ia melupakanmu dan kamu melupakannya. Di musim yang teduh tanpa hujan. Panas tanpa kekeringan. Musim yang paling sempurna yang pernah dibuat tuhan. Semua berbahagia kecuali kamu. Karena kamu masih tertidur.
Dan kaupun hanya tertidur.
Sampai suatu hari dimana para musim enggan tuk menyapamu lagi. Setelah hewan-hewan hutan tidak lagi peduli. Dan para pangeran mati. Dan panggung sepi. Dan drama telah selesai.
Dan kaupun masih tertidur.
Menyunggingkan senyum kemarin yang telah bercampur kegetiran abab mulut. Matamu terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan kembali tertutup. Terbuka dan memandangku tajam.
Bangkit dan mendekati,
penonton barisan depan yang tak pernah sedetikpun matanya terpejam.
Bekasi, 27 Nopember 2009
Penulis muda pada sebuah puisi
Pada suatu sore, seorang penulis muda datang ke sebuah toko buku besar di kotanya. Ia bertanya tentang sebuah buku yang baru saja diterbitkan. Pelayan toko menunjuk dan menuntun anak itu ke rak di mana buku itu dipajang.
“Ini buku karangan saya, Mas!” kata penulis muda itu dengan bangga ke pelayan toko sambil mengangkat buku itu dengan bangga.
“Oya?” kata pelayan toko datar.
“Saya boleh mebeli buku ini, Mas!” lanjut si anak antusias.
“Oh, ya silahkan!”
“Apa tidak ada diskon?”
“Tidak ada.”
“Sama sekali tidak ada?”
“Sama sekali tidak ada.”
“Tapi uang saya kurang, Mas.”
“Anda kan penulisnya?” kata pelayan toko sambil meletakan buku itu ke tempat semula, “Bukankah penulis mendapat royalty dari buku karangannya?”
“Ya, tapi itu kan perenambulan.” Kata anak itu, “Apakah aku harus menunggu sampai enam bulan lagi?” lanjutnya dalam hati.
“Yah, itu cukup untuk membuat karya baru lagi, kan?” kata pelayan toko sambil pergi meninggalkannya.
Ia keluar dari toko itu dengan kecewa. Tapi dalam hatinya ia bertekad ingin membeli buku itu. Sekedar untuk kenang-kenangan lah.
Ditengah jalan pulang, ia melihat tukang pakaian bekas. Dalam hatinya terbersit keinginan yang tak sempat ia ucap, “Ah, mungkin harga celanaku cukup untuk membeli bukuku sendiri.”
Bekasi, Juni 2009
“Ini buku karangan saya, Mas!” kata penulis muda itu dengan bangga ke pelayan toko sambil mengangkat buku itu dengan bangga.
“Oya?” kata pelayan toko datar.
“Saya boleh mebeli buku ini, Mas!” lanjut si anak antusias.
“Oh, ya silahkan!”
“Apa tidak ada diskon?”
“Tidak ada.”
“Sama sekali tidak ada?”
“Sama sekali tidak ada.”
“Tapi uang saya kurang, Mas.”
“Anda kan penulisnya?” kata pelayan toko sambil meletakan buku itu ke tempat semula, “Bukankah penulis mendapat royalty dari buku karangannya?”
“Ya, tapi itu kan perenambulan.” Kata anak itu, “Apakah aku harus menunggu sampai enam bulan lagi?” lanjutnya dalam hati.
“Yah, itu cukup untuk membuat karya baru lagi, kan?” kata pelayan toko sambil pergi meninggalkannya.
Ia keluar dari toko itu dengan kecewa. Tapi dalam hatinya ia bertekad ingin membeli buku itu. Sekedar untuk kenang-kenangan lah.
Ditengah jalan pulang, ia melihat tukang pakaian bekas. Dalam hatinya terbersit keinginan yang tak sempat ia ucap, “Ah, mungkin harga celanaku cukup untuk membeli bukuku sendiri.”
Bekasi, Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)

