Laman

Selasa, 14 Juni 2011

Simbolisasi Untuk Aksi



Begitulah yang pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma, sang jurnalis yang sastrawan itu. Teks tentu tidak akan pernah kosong dari konteks. Seno menulis demikian pada konteks ketika pemerintahan terlalu membatasi pers. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, jurnalisme dibungkam dengan berbagai macam cara. Jurnalisme yang harus bicara berdasarkan fakta dan objektif cenderung kalah dengan kekuasaan yang besar dan otoriter.

Sastra bicara tentu dengan bahasanya sediri yang berbeda dengan jurnalisme. Karya sastra yang baik bersifat ambigu, mempunyai banyak sisi pemahaman. Ia tidak seperti kitab undang-undang atau kitab suci yang saklek dan cenderung menganut sisi kebenaran yang satu. Sastra juga cenderung bersifat subjektif dan lebih menekankan aspek perasaan. Hal yang tentu tidak dimiliki jurnalisme yang faktaif dan objektif. Satu hal lagi, ketika jurnalisme bicara dengan bahasa yang lugas dan jelas, sastra malah bicara melalui bahasa yang ambigu dan penuh simbol.

Jumat, 03 Juni 2011

kamu


andai kau semudah sudah
atau segampang bilang
tentu aku tidak perlu peluru
juga tak butuh peluh
untuk bisa mengertimu


Bekasi, September 2008